Septianwarwer's Blog

Just another WordPress.com weblog

PENGEMIS IBU KOTA

di malam hari yang sangat lapar,Q memutuskan untuk makan  ayam goreng nasi uduk di depan emperan jalan deket dngn tempat tinggal Q..di jamin uenak tenan pokoke..mak nyuus,lho,!!! Jelang selesai makan datang gerombolan pengamen anak-anak kecil sebanyaktiga orang dengan masing-masing satu instrumen musik, tiga gitar, dua biola dan satu perkusi dari kaleng Pocari Sweat diisi pasir.sungguh meangis hati,Q…ternyata masih banyak yg di bawah kita……..maka beruntunglah kita,karena kita udah di beri anugrahnya yg tak ternilai harganya……

Stop beri uang, beri kami kesempatanMenggebrak hadirin yang sedang makan secara medley dengan lagu Bond (satu yang badannya paling tinggi jadi komando dengan biolanya, pengen jadi  kayaknya), berpindah lagu dengan bridge The Final Countdown Europe ke lagu Sakura Fariz RM sekaligus mereka bernyanyi juga, lalu disambung dengan lagu-lagu lain (nggak inget lagu apa aja) dan diakhiri dengan Cindai Siti Nurhaliza.

Receh skala ribuan saya berikan,karena saya tidak bisa kalo tidak berbagi,itu kalo aku …beda lagi kalo lagi gk ada. mungkin karena mereka mengamen secara serius, bukan sekadar menumpuk tutup Teh Botol atau Coca Cola yang dipaku pada batang kayu sehingga berbunyi kecrek-kecrek, masih asing buat saya anak jalanan bermain biola sebab rasanya sulit mencari instrumen biola secara murah (kalo gitar sih banyak). Saya bisa sedikit bermain gitar dan pernah sekali mencoba menggesek biola, ternyata susah walau hanya untuk membunyikan satu nada secara konstan.

Kalau saya pikirkan kadang saya ini tak punya rasa kasihan, jarang memberi uang kepada pengamen jalanan yang apalagi pengamen di lampu merah persimpangan (mengamen di jalan tak ada bedanya dengan mengemis). Saya tak ingin memberi mereka rasa kasihan, sebab rasa kasihan akhir-akhir ini sering menjadi arti lain sebuah ejekan, misalnya ungkapan “kaciaan deh lu” sambil meliuk-liukkan telunjuk dari atas ke bawah di depan muka.

Saya ingin peduli (rasa kasih, bukan rasa kasihan) tapi tak bisa berbuat apa-apa secara langsung kepada mereka, sebab masalah pengamen jalanan adalah porsinya pemerintah kota, bukan porsinya person to person. Tak akan saya pungkiri bahwa kepedulian person to person hanya saya lakukan kepada keluarga, teman dan sahabat, atau rekan kerja.

dalam kasus ini, aku termasuk penganut aliran yang memberi uang. tapi itu juga pilih-pilih, nggak akan gue kasih duit yang gaya mintanya sambil ngancam.

bukan berarti gue anti gerakan stop memberi duit. intinya, tiap orang punya pendapat berbeda, dan gue cuma berpendapat, duit yang ada di tangan gue ini cuma numpang lewat doang, siapa yang bisa jamin kalau ternyata memang mereka butuh duit buat beli makan saat itu juga atau tidak. yeah i know the concept of easy money, but everyone is entitled to his own opinions.

Kehidupan kita, rakyat miskin dikota-kota dicekik habis, ditipu, dibiarkan mati perlahan-lahan, dan dipecah belah oleh SBY-Kalla dengan politik kenaikan harga BBM-nya, politik kependudukan dan pengusurannya, dan dengan politik penyaluran BLT-nya.
Kita, rakyat miskin di kota-kota tidak akan tinggal diam melihat nasib kita yang ditindas oleh Pemerintahan SBY-Kalla dan aparat-aparatnya. Menjadi sepantasnya jika bangkit berjuang merebut hak-hak kita, bahwa kita punya hak di dalam APBN –bahkan harus mendapat prioritas karena golongan kita adalah yang terbesar dari seluruh lapisan penduduk di negeri ini, bahwa kita punya hak untuk bertempat tinggal, bekerja dan bertahan hidup. Menjadi sepantasnya jika kita bangkit berjuang melawan Pemerintahan SVBY-Kalla, melawan bangkir-bangkir korup yang dilindungi-nya, melawan kaum imperialis yang menjadi tuan modalnya SBY-Kalla. Perjuangan kita pasti meluas karena nasib saudara-saudara kita yaitu kaum tani, rakyat miskin di pedesaan, juga kaum buruh tidak kalah buruknya dengan nasib kita. Mereka pasti bersuka cita untuk bersatu bersama kita melawan rejim penindas rakyat miskin. Pengalaman dan tindakan dari SBY-Kalla, juga penguasa-penguasa sebelumnya memberikan pengetahuan dan juga keyakinan pada kita bahwa rakyat miskin sendiri, rakyat miskin yang bersatu pada saatnya dan sudah menjadi kebutuhan mendesak untuk berpolitik, berorganisasi, berjuang, dan berkuasa sendiri. Atau nasib kita akan terus diinjak-injak dan ditipu!

memeng betul klo bahas pengamen ga ada ujungnya, tidak kita pungkiri banyak pengamen yang hasil kerjanya itu dipake buat poya2, langkah ruginya mereka itu. sudah kepanasan kedinginan malh pendaptanya itu di sia2in. saya pernah wawancara dengan seorang pengamen kecil dia menjelaskan bahwa penghasilanya di berikan kepada ibuny buat makn adik2nya sungguh kagum dan iba sya mendengarnya. saran saya jangan klah memandang semua pengamen jalanan itu berengsek.

o..yaa aq pernah nemuin jua klu hasil ngamen dipake untuk poya2 utamanya minum2an keras, uh sayang banget yaa…. tapi ada pepatah komentar itu enak tapi action nya itu lho……..
gimana tindakan kita sebagai orang yang saat ini sadar akan hal itu….
bengongkah kita karena moralitas bangsa kita
atau mungkin gembira dengan hal itu…
oh Tuhan…….
Ampunilah kami….

Advertisements

Filed under: sukarelawan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: